TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA
TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA
March 10, 2025

Catatan Pemutaran Film Bioskop Taman 08 maret 2025

Pada 8 Maret, Bioskop Taman menghadirkan dua film karya Agung Jakarsih,  The Fish That Lives in Water (2024) dan Beungkeleukeun (2020), yang sama-sama mengangkat tema klenik dalam kehidupan masyarakat. Kedua film ini tidak hanya menawarkan kisah yang menarik, tetapi juga menggambarkan realitas sosial yang masih lekat dalam kehidupan kelompok ekonomi menengah ke bawah.

The Fish: Rasa Bersalah dan Pertemuan Misterius

The Fish berkisah tentang Tarja, seorang pemuda yang dihantui rasa bersalah atas kematian ayahnya serta kebangkrutan usaha keluarga. Sikap adiknya yang dingin dan penuh kebencian semakin memperparah tekanan batinnya. Alih-alih bekerja, Tarja justru lebih sering menghabiskan waktu dengan memancing, seolah mencari pelarian dari realitas yang menyakitkan. Namun, segalanya berubah ketika ia bertemu dengan seorang lelaki tua misterius di tepi sungai. Pertemuan itu mengubah dirinya untuk selamanya.

Beungkeleukeun: Antara Harapan dan Keputusasaan

Sementara itu, Beungkeleukeun mengisahkan perjuangan seorang ayah yang terobsesi memenangkan togel demi menepati janjinya kepada sang anak—membelikannya rumah yang layak. Demi impian itu, ia melakukan berbagai ritual klenik, berharap keberuntungan berpihak padanya. Namun, sekeras apa pun usahanya, hasil yang diharapkan tak kunjung datang. Film ini menyoroti sisi kelam harapan yang berujung pada keputusasaan.

Diskusi: Di Balik Layar dan Inspirasi Sutradara

Setelah pemutaran kedua film, sesi diskusi dipandu oleh Mas Panji, sang produser. Ia berbagi wawasan tentang proses produksi serta latar belakang ide cerita yang digarap Agung Jakarsih. Menariknya, kedua film ini tidak hanya menampilkan unsur klenik sebagai elemen mistis semata, tetapi juga sebagai refleksi dari keterpurukan sosial.

Figur utama dalam The Fish dan Beungkeleukeun sama-sama adalah lelaki yang merasa terjebak dalam keadaan tak berdaya. Tekanan hidup dan ketidakpastian membuat mereka memilih jalan alternatif—sebuah ritual—dengan harapan bisa mengubah nasib. Ini adalah gambaran nyata dari kondisi yang masih terjadi di masyarakat, di mana keterbatasan ekonomi sering kali mendorong orang mencari solusi di luar nalar.

Film-film ini bukan sekadar kisah, tetapi cerminan dari realitas. Keduanya mengajak kita merenungkan bagaimana tekanan hidup dapat mendorong seseorang mengambil keputusan di luar batas logika. Sebuah eksplorasi yang menarik, sekaligus mengusik pemikiran.

Categories: bioskop taman