Ekfrasis Bakaba Sinema
Tak ada yang lebih membahagiakan selain menyaksikan kehidupan hadir dalam keheningan ruang dan kematian sementara waktu. Jarak manusia dengan cermin dirinya seolah-olah paradoksal,
Tak ada yang lebih membahagiakan selain menyaksikan kehidupan hadir dalam keheningan ruang dan kematian sementara waktu. Jarak manusia dengan cermin dirinya seolah-olah paradoksal, kadang jauh kadang dekat, lahir dari beragam pergulatan. Hal tersebut direkam melalui dinamika visual, sinematik.
Namun film bukan hanya sekadar rekaman. Bukankah film tidak hanya media? Dapatkah menonton film, seperti pekerjaan, juga menjadi sebuah pengalaman? Sebagai pekarya atau sebagai distributor atau sebagai penonton, apa yang kita cari pada film?
BAKABA SINEMA oleh Bioskop Taman Ladang Rupa, menayangkan film-film alternatif sekaligus menyuluh apresiasi film dengan proses belajar bersama. Serangkai kegiatan sinema diadakan pada seminggu Ramadan, 02 hingga 07 Maret 2026. Dengan peserta-peserta dari individu atau mewakili kelompok yang memiliki ketertarikan terhadap media, seni media, kebudayaan, dan film. Bakaba Sinema membuka ruang diskusi produktif dengan tetap berbasis komunitas. Kegiatan ini menguatkan pemahaman dasar terkait sinema sekaligus mempererat jejaring komunitas kreatif di tengah masyarakat.

Gerak film lebih dari fungsinya sebagai media. Siklus industri film memutar kehidupan manusia. Salah satu penggerak yang cukup jarang diperbincangkan ialah distributor. Keberadaan distributor mampu terus menghadirkan film-film kepada berbagai penonton sekaligus teguh menghubungkan pekarya film supaya kontinu berkarya. Sebagai salah seorang pemateri di Bakaba Sinema, Vanessa Lutfi Firstatiani mengingatkan bagian penting tersebut dengan judul “distribusi film ke publik”.
Publik film tampak seperti udara, menangkap cahaya dengan bebas tanpa batas. Akan tetapi, industri film memiliki bayangan batas-batas publik film. Malahan sebelum film tersebut sampai pada tahap ekshibisi. Distributor mengukur panjang bayang-bayang usia film. Vanessa menguraikan dasar-dasar pertanyaan untuk meningkatkan kepekaan distributor film. Di antaranya: Siapa target penonton? Di mana penonton melihat informasi film? Apa yang ingin disampaikan pekarya film?
Selaku pegiat berpengalaman bidang distributor, Vanessa menyatakan bahwa Sumatra Barat belum memiliki siklus distribusi yang kuat untuk keberlanjutan film dan pekarya film. Pengamatan tersebut perlu untuk kemandirian industri film. Meski pekarya film produktif menampilkan berbagai film di berbagai komunitas dan publik, tetapi belum cukup untuk mempertahankannya hingga dekade waktu.
Diskusi semakin berdenyut menjelang waktu berbuka tiba. Peserta, dengan beragam latar pengalaman, turut aktif bertanya dan menanggapi diskusi. Barangkali karena sudah melawan puasanya, jadi ditunda dulu makannya dengan diskusi-diskusi kreatif ini.

Keakraban suasana juga hadir setelah waktu berbuka tiba. Bakaba Sinema menyediakan makan bersama. Pasca-belajar film, kita akan terus belajar kehidupan. Bukan semata ruang berdialektika, melainkan juga ruang bajamba. Ruang-ruang yang tak mampu dihadirkan kembali oleh pemerintahan terkait. Ruang sederhana mengeratkan kerja sama pelaku budaya.

Di ruang Homepimpa Ladang Rupa, film-film bergerak sinematik. Ada film yang mengalirkan gambar-gambar, plot-plot, hingga cerita-cerita. Sebaliknya, juga ada yang memperadukan ragam-ragam sinematik film hingga membara. Dinding putih itu bak kepala manusia sedang menghadapi tanda-tanda. Betapa heningnya tengkorak di balik riuhnya saraf-saraf otak.
Selama satu minggu kegiatan, Bakaba Sinema menayangkan tiga film. Aktivitas menumbuhkan pengalaman-pengalaman manusia. Apa yang kita pelajari dari pengalaman tersebut? Pertanyaan remah-remah untuk terus menghadapi hidup.
Sorak semarai peserta menyalakan ruang sinema Homepimpa, usai film “The Silent Path” karya Yonri S.Revolt. Penayangan film pertama kegiatan ini cukup mendebarkan suasana. Kian khusyuknya, kerupuk-kerupuk sanjai pun tak terjamah selama menonton. Film tersebut mengolah kekayaan arsip menjadi suatu cerita. Kepiawaian sang sutradara membuktikan bahwa arsip bukanlah suatu benda berkerangkeng, tetapi arsip juga memiliki nyawa.
Pandangan terkait film dan arsip juga disorot oleh panitia Bakaba Sinema. Ogy Wisnu, selaku bagian dari panitia, menyatakan “Kita berefleksi dengan arsip-arsip. Arsip dapat menyulut sebuah karya film yang kaya isu dan pembahasan. Dengan demikian, arsip menjadi bagian dari pendidikan sekaligus penyemai ekosistem film.”
Penulis penasaran dengan aktivitas arsip yang dilakukan teman-teman Ladang Rupa. Semenjak ruang masuk, kita tak bisa memalingkan hati dan pikiran dari aroma-aroma arsip. Buku-buku klasik berjejer di rak-rak gedung tua, sungguh kenikmatan dunia. Janganlah sampai arsip ini berada di tangan para penjarah, kolektor-kolektor maling kebudayaan. (Intermeso…)
Kemudian, Ogy melanjutkan proses Ladang Rupa dalam merawat arsip-arsip kebudayaan. “Bioskop Taman mengarsipkan film berdasarkan rekomendasi jejaring teman-teman pegiat film. Pengarsipan sudah dimulai sejak 2015, baik film komersial maupun non-komersial. Dalam mengarsip, film dibagi sesuai genre sinema: sinema klasik, sinema neorealis, sinema realis, dll.. Sebagai ruang pemutaran, kita tidak terlepas dari arsip. Tidak hanya di film, seni rupa dan sastra pun begitu. Arsip menjadi suatu hal paling penting untuk ekosistem. Oleh karenanya, setiap kegiatan juga mesti ada dokumentasinya. Dokumentasi dapat berupa foto, tulisan, dan lainnya menyangkut kegiatan.”

Penayangan film terakhir berjudul “Mengalir dan Membara” karya Agus Edi Santoso. Film satir ini menggerakkan ketajaman plot-plot sehingga struktur film terlihat begitu apik. Hamdi Fatwa, salah seorang peserta (berada paling kanan foto), dibuat geleng-geleng kepala saking cairnya cerita dalam film ini. Film dengan tema kehidupan urban.
Pengalaman menonton film terkadang menimbulkan kegelisahan visual. Fajar Indayani, pemateri di Bakaba Sinema, menerangkan bahwasanya kegelisahan tersebut adalah salah satu tanda dari keberhasilan pekarya dalam membangun rasa ingin tahu penonton. Beliau memantik dengan judul “Dari Menonton ke Mencipta”. Barangkali yang dimaksud mencipta pada konteks ini ialah menciptakan tulisan di antaranya naskah film, ulasan film, ataupun liputan menonton film.
Melalui pengalaman sebagai akademisi dan praktisi TV Film, Fajar Indayani membongkar perangkat-perangkat lahirnya suatu karya film kepada para peserta. Salah satu perangkat krusial dalam film yaitu cerita. Selain fokus cerita, menurutnya, penulis juga harus memahami seni dan dramatik film. Sebab visi film akan mempengaruhi penulisan cerita, bentuk sinematik, dan genre. Kepaduan unsur-unsur tersebut lantas menggarisbawahi film merupakan bahasa visual.

Film kedua yang diputar oleh Bakaba Sinema adalah “WIFELIVE” karya Fajar Indayani. Film ini memilih format screenlife sebagai sinematik penceritaan visual. Pemilihan format ini menunjukkan permasalahan yang kerap kita temui akhir-akhir ini, posthumanism. Film ini menampilkan realitas sekaligus mempertanyakan kompleksitas hidup manusia. Dengan pengalaman beliau bekerja pada tim sinetron dan FTV, kita sebagai penonton tak akan dibuat pusing berlarut-larut menghadapi kompleksitas tersebut. Memang film kadang seperti hidup―hanya perlu dijalani sesekali dinikmati, tanpa menyerah apalagi putus asa.
Demikianlah, bahasa film merakit pekarya-distributor-penonton. Sebagai pekarya, dapat menciptakan naskah hingga jadi suatu film. Sebagai distributor, dapat menjembatani pekarya dan penonton. Sebagai penonton, dapat menikmati film―mungkin mengulasnya atau mengkritiknya. Dengan memahami bahasa, narasi sinematik menjadi lebih luas.

Bahasa film tidak hanya eksplisit berada pada cerita. Bahkan, dari sudut pandang Muhaimin Nurizqy (salah seorang pemateri Bakaba Sinema), film bisa ada tanpa cerita. Bahasa film dapat ditinjau dari berbagai perkakasnya, seperti genre, visual, dan artistik. Muhaimin menantang peserta untuk menonton film dengan mematikan sound dan subtitle, cukup perhatikan visualnya saja. Saat menonton film Fajar Indayani di atas, penulis mempraktikkan pengamatan detail-detail selain cerita. Agaknya aktivitas menonton seperti ini, menimbulkan penghayatan yang unik. Sebelum jauh berdiskusi hingga isu-isu atau makna-makna pada film, menonton sejatinya merupakan peristiwa yang menguraikan gambar-gambar bergerak sampai menyentuh kekaguman sinematik.
Pengalaman menonton film bertumbuh seiring terus mendiskusikannya. Pencarian masing-masing terhadap film akan terus tayang dalam pikiran dan perasaan. Meski demikian, ruang dan waktu bersama-sama adalah nadi kebudayaan. (Layar dikembang…)
Penulis

Fadhillah Hayati. Menamatkan sarjana di Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Berdomisili di Bukittinggi, Sumatra Barat.
Tak ada yang lebih membahagiakan selain menyaksikan kehidupan hadir dalam keheningan ruang dan kematian sementara waktu. Jarak manusia dengan cermin dirinya seolah-olah paradoksal,
Catatan Pemutaran Film Bioskop Taman Sabtu, 15 Maret 2025 Bioskop Taman berkolaborasi dengan Cinema Darurat memutarkan tiga film pendek dengan tema horor. Tiga film pendek diputar,
Catatan Pemutaran Film Bioskop Taman 08 maret 2025 Pada 8 Maret, Bioskop Taman menghadirkan dua film karya Agung Jakarsih, The Fish That Lives in Water (2024) dan Beungkeleukeun
Catatan Pemutaran Film Paper & Glue – Bioskop Taman Film dokumenter Paper & Glue karya seniman Prancis JR membuka dengan sebuah aksi seni yang epik—membentangkan po
Dinamika Pedagang Pasar Atas Bukittinggi hingga Lesunya Aktivitas Pasar Sejak Pembangunan Baru Jantung Kota. Di hari pertama menginjakan kaki di kampung halaman, beberapa teman yan
DI era 1990-an, kita belum mengenal permainan modern seperti Playstation, online game, internet, dan komputer. Anak-anak juga belum mengenal ponsel, apalagi smartphone. Televisi pu
Andaikan seseorang meminta saya membangun jembatan atau membuat tiang jemuran, bisa dipastikan tak butuh waktu lama bagi saya untuk menolaknya sebab saya tidak tertarik sama sekali
Manas ciek luh! adalah ungkapan anak-anak Minangkabau di dalam sebuah permainan. Ungkapan tersebut bertujuan untuk meminta jeda sejenak bisa jadi karena kelelahan, haus, kaki kesem
Nagari Pandai Sikek terkenal dengan kerajinan songket yang sangat diminati oleh wisatawan terutama wisatawan asing dan wisatawan dari luar Sumatra Barat. Nagari ini terletak di kak