Pemutaran 1 Bakaba Sinema: Mata yang Melihat atau yang Menatap?
Ketika datang menonton film luring, harapan untuk mendapatkan rasa “menyenangkan” tumbuh begitu lekas―menuntut hiburan sebab keras hidup tak berkesudahan. Namun menonton film
Ketika datang menonton film luring, harapan untuk mendapatkan rasa “menyenangkan” tumbuh begitu lekas―menuntut hiburan sebab keras hidup tak berkesudahan. Namun menonton film luring mungkin memberikan lebih daripada rasa senang, gerak-gerik sinema menciptakan keheningan jiwa. Agaknya film luring telah melucuti perhatian kita pada kerangkeng layar video-video daring. Film, salah satu ragam seni, memberi jarak buat pikiran dan tatapan kemanusiaan kita kian benderang.
Seberapa lama keheningan jiwa mampu bertahan hanya karena gerak sinema? Bukankah perhatian kita sudah terlanjur membatu dalam ikatan permanen layar-layar ponsel pintar? Atau mungkinkah ada algoritma nurani yang ramah lingkungan? (Sambil memegang smartphone, kita membaca sejenak ya…)
Layar Bakaba Sinema kembali memancarkan cahaya ke malam ruang terbuka, 04 April 2026. Setelah tema Bioskop Keliling Kampung 2023, Bioskop Taman memperlebar ruang pemutaran agak lebih jauh jarak tempuhnya dari basecamp Ladang Rupa. Yang pertama ialah Ladang Darek Nagari Kamang Hilir, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam. Di negeri dingin kabupaten Agam ini, Bakaba Sinema menayangkan tiga film yaitu “Pasukan Semut”, “Mlethek”, dan “A Dog’s Life”. Sehabis sesi pemutaran, berlanjut sesi diskusi bersama dua narasumber yaitu Mohammad Irvan (akrab dipanggil Bang Spansan, seorang filmmaker & exhibitor film) dan Robby Julianda (kurator film & sastrawan), dimoderatori oleh Redo Sobirin.

“Layar tancap ko lah lamo indak. Suisuaknyo zaman Pak Soeharto tahun 80-an,” sahut Bu Devi (salah seorang penonton yang tiba bersama kedua anaknya, Ryan dan Restu).
Berdasarkan peristiwa sinema yang berlangsung, penulis mendengar kegelisahan senada antar penyelenggara Bioskop Taman dan emak-emak Ladang Darek yakni edukasi film sejak dini. Ryan Patrio (akrab disapa Bang Bayan, salah seorang tim Bioskop Taman) mengungkapkan bahwa bahasa-bahasa film menyiratkan pesan-pesan yang terkadang tidak ada dalam buku pelajaran sekolah. Ibu Devi dan emak-emak yang duduk paling belakang sisi lapik, turut menyuarakan bahwa menonton layar tancap buat mengajarkan anak-anak tentang nilai-nilai hidup, seperti tidak mencuri pada film kedua tadi.
Tanggapan mengenai edukasi film lebih lanjut disampaikan oleh salah seorang narasumber, Bang Irvan: “Bakaba Sinema, kalau saya memaknai, bukan sekadar menonton film tetapi sebuah peristiwa kebudayaan yang menjaga marwah manusia menjadi makhluk sosial. Misalnya: proses pemutaran film ternyata bisa menyambung silaturahmi antar pemuda dan bisa bekerja sama dengan banyak pihak. Orang tua pun kadangkala bertanya: kapan lagi? Oleh karena orang tua mempertimbangkan terlebih dahulu: dibanding marah ketika anaknya menangis jika tidak dipinjamkan smartphone hari ini, akan lebih ringan dengan menemani anaknya hadir menonton film di sini. Kekhawatiran tersebut muncul lantaran ketergantungan si anak terhadap smartphone. Ketika nonton di sini pun, anak-anak juga percaya diri saat ditanya terkait film yang mereka tonton. Begitulah film sebagai produk kebudayaan bekerja melalui peristiwa sinema, kendati bukan merupakan titik akhir”.
Penayangan film yang beragam mempengaruhi atensi anak-anak kala malam berangin di Lapangan Futsal Jorong Ladang Darek Nagari Kamang Hilir. Mata mereka terus menatap gambar-gambar bergerak, seolah melihat saja belum cukup bagi pikirannya. Namun melalui keheningan tersebut, mereka membongkar pemaknaan lain terkait edukasi film. Tatkala emak-emak begitu riuh karena lupa membawa gorengan dan air minum panas, anak-anaklah yang menenangkan hadirin saat film telah dimulai: sssttttsss! Di sisi lain, Kevin dan dua temannya (seusia 13 tahun-an), anak-anak Ladang Darek mengutarakan keinginan mereka main film seperti cerita “Mlethek”. “Kalau ado, nio Kak…,” kata mereka agak malu-malu. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya menjadi tujuan pasif edukasi sinema, tetapi sebaliknya ingin aktif menghidupkan peristiwa sinema yang berkelanjutan.
Pemutaran tiga film oleh Bakaba Sinema rupanya bukan sekadar pengenalan sinema kepada anak-anak, melainkan menambah air pengalaman adalah pelajaran hidup yang istimewa. Nayla (seorang anak Ladang Darek berusia 12 tahun) menyampaikan “Suaro no ndak do kasa-kasa na do, Kak. Rancak film dari video-video di HP. Biaso no nonton urang konten-konten mode tun se no, Kak”. Barangkali ia pun belum pernah mendengar berbagai istilah film semacam bahasa visual, suara, imaji, genre, dan lainnya. Walakin, ia menyebut “kasar” dengan konteks bahasa film secara utuh―rangkaian sang pembuat, media, dan sang penangkap suara. Pengalaman gerak-gerik sinema itulah yang terbaca oleh Nayla dari alam bawah sadar.
Bioskop Taman tema “Bakaba Sinema” tahun 2026 menyerahkan pemilihan film kepada kurator. Bang Irvan (filmmaker Dedasa Lama; Hikayat Lemari; Tarian menuju Barat; Uni, Dear My Sister; Rumah di Hulu; terbaru 1×1 di Ujung Lajur) menanggapi bahwa pemilihan film-film kali ini mempertimbangkan waktu dengan cermat, “Bakaba Sinema menjadi salah satu bentuk konsistensi dari kawan-kawan Bioskop Taman sebagai eksibitor film. Ada pemutaran film lama & film terbaru, film daerah sendiri & film daerah lain. Perbedaan tersebut dapat berdampak terhadap pertukaran informasi dan menjaga stabilitas manusia. Oh ternyata orang di sana begitu, di sini kita mungkin lebih bersyukur,” tuturnya selepas layar proyektor diturunkan.
Keanekaragaman pengalaman menonton film, baik segi genre/media/bahasa, mampu memperluas jiwa petualangan. Film “Pasukan Semut” berlatar wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia, “Mlethek” berlatar budaya Jawa, dan “A Dog’s Life” berlatar daerah Sumatra Barat. Selaku kurator Bakaba Sinema, Bang Robby membisikkan tiga spirit dalam memilih tiga film tersebut. Pertama, latar film-film yang dapat memperluas pengetahuan. Kedua, cerita film-film yang dapat menumbuhkan empati. Dan terakhir, film-film yang menghidupkan imajinasi anak. Jaya selalu film-film seluruh Indonesia!
Meski hujan lebat terjadi sejak siang hingga sore di sana―tantangan berat bagi Bioskop Taman, keberuntungan berpihak pada pemutaran layar Bakaba Sinema D1 yang berlangsung dengan syahdu dan antusias ramai warga Ladang Darek Nagari Kamang penuh keakraban. “Harapannya untuk Bakaba Sinema: Pertama, semoga lancar sampai D6. Semoga tenaga yang kawan-kawan keluarkan dampaknya happy, karena saya yakin ini melelahkan. Lalu, semoga nanti akan ada lagi Bakaba Sinema berikut-berikutnya. Bioskop Taman terus menjadi salah satu tempat regenerasi orang-orang yang peduli terhadap tradisi kebudayaan,” doa Bang Irvan dengan tulus.
Satu demi satu bintang memancar di langit malam. Kilat mengintip-intip di atas Bukit Barisan yang tidak begitu jauh dari Ladang Darek Nagari Kamang, mungkin itu meteor. Yang pasti, kunang-kunang masih hadir di sekitar lapangan ini. Cahaya-cahaya beterbangan sekaligus berbenturan. Anak-anak gundah dalam permainan yang tidak dapat mereka kendalikan. Kegundahan bersambut harapan saat akhir sesi diskusi Bakaba Sinema, Bang Robby berkata “Karena saya sebagai guru, jadi meminta kepada adik-adik semuanya, rajin belajar. Supaya kita bisa melihat dunia ini lebih terang dan lebih optimis menghadapi dunia sekarang. Rajin belajar dan buat pr di rumah”. Penutup yang sungguh mencerahkan kehidupan penerus bangsa, di tengah berbagai komplikasi penyakit dunia zaman kini.
Bagaimanapun, sebuah layar Bakaba Sinema mempertemukan berbagai mata yang haus pada cengkerama. Kebersamaan dalam petualangan sinema mengalirkan pengalaman-pengalaman, yang barangkali mampu meretas algoritma nurani kemanusiaan kita. Sejauh mana? (Sedang meneropong batin sendiri-sendiri…)

kubungkus nasibku kenyataan sehari-hari perih
dalam gebalau roba yang tagih menagih
ku harap kau terlintas di jalan sejarah negeriku yang manis
walaupun setiap musim kemarau hujan kabutabu gerimis
1998
(“demam menyerang” karya Rusli Marzuki Saria)
***
Ketika datang menonton film luring, harapan untuk mendapatkan rasa “menyenangkan” tumbuh begitu lekas―menuntut hiburan sebab keras hidup tak berkesudahan. Namun menonton film
Tak ada yang lebih membahagiakan selain menyaksikan kehidupan hadir dalam keheningan ruang dan kematian sementara waktu. Jarak manusia dengan cermin dirinya seolah-olah paradoksal,
Catatan Pemutaran Film Bioskop Taman Sabtu, 15 Maret 2025 Bioskop Taman berkolaborasi dengan Cinema Darurat memutarkan tiga film pendek dengan tema horor. Tiga film pendek diputar,
Catatan Pemutaran Film Bioskop Taman 08 maret 2025 Pada 8 Maret, Bioskop Taman menghadirkan dua film karya Agung Jakarsih, The Fish That Lives in Water (2024) dan Beungkeleukeun
Catatan Pemutaran Film Paper & Glue – Bioskop Taman Film dokumenter Paper & Glue karya seniman Prancis JR membuka dengan sebuah aksi seni yang epik—membentangkan po
Dinamika Pedagang Pasar Atas Bukittinggi hingga Lesunya Aktivitas Pasar Sejak Pembangunan Baru Jantung Kota. Di hari pertama menginjakan kaki di kampung halaman, beberapa teman yan
DI era 1990-an, kita belum mengenal permainan modern seperti Playstation, online game, internet, dan komputer. Anak-anak juga belum mengenal ponsel, apalagi smartphone. Televisi pu
Andaikan seseorang meminta saya membangun jembatan atau membuat tiang jemuran, bisa dipastikan tak butuh waktu lama bagi saya untuk menolaknya sebab saya tidak tertarik sama sekali
Manas ciek luh! adalah ungkapan anak-anak Minangkabau di dalam sebuah permainan. Ungkapan tersebut bertujuan untuk meminta jeda sejenak bisa jadi karena kelelahan, haus, kaki kesem