TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA
TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA
May 15, 2026

Agak janggal rasanya ketika sebuah film tidak memiliki keberpihakan kepada suatu hal,baik kepada suatu kelompok atau sosok individu. Inilah yang saya rasakan setelah menonton film Wifelive besutan sutradara Fajar Indayani saat Workshop Bakaba Sinema beberapa waktu yang lalu. Sang sutradara membeberkan berpendapatnya ketika diskusi berlangsung, bahwa film ini tidak memiliki keberpihakan kepada siapa-siapa. Jujur, dahi saya berkerut ketika mendengarkan ucapannya itu. Lalu, apa yang sebenarnya ingin dicapai? Apakah hanya memperlihatkan kesengsaraan seorang wanita yang menjadi seorang simpanan saja?

Malam itu, Wifelive (kebetulan) menjadi film favorit saya. Menurut saya, dari segi cerita dan visual bisa dibilang film ini layak untuk ditonton. Film ini membuat saya gelisah, seakan tidak diberi napas dan  rasanya ingin cepat-cepat mengakhirinya saja. Memang terkesan berlebihan, namun rasa sepi yang dihadirkan sang sutradara terhadap tokoh utama di  film ini tampak memperlihatkan betapa mudahnya orang-orang berkomentar (liar) sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada diri tokoh utama dan juga penonton.

Yang perlu kita sadari  bahwa tidak ada batas antara realitas dan dunia digital hari ini. Banyak orang bisa membicarakan apa yang dia rasakan dengan sangat mudah — sampai rahasia kehidupan keluarganya sekalipun dibagikan ke khalayak ramai. Benar! Saya bisa bilang film ini seakan berupaya untuk membeberkan ‘aib’ tokohnya sendiri agar apa yang terjadi padanya terungkap, sehingga apa yang ia alami tidak terjadi pada orang lain (semoga begitu), walaupun hal seperti itu(perselingkuhan)akan tetap ada dan tak pernah punah.

Pada awalnya saya mengira film ini akan berusaha memenangkan tokoh utamanya dalam permasalahan yang dihadapinya. Saya seperti seorang pendukung klub sepak bola yang selalu kalah di setiap pertandingan. Memang, pada akhirnya semua konflik terungkap.. Namun film ini seperti  tidak menyelesaikan apa-apa. Kita hanya disuguhkan tokoh utama yang terkena jap-jap kehidupan berulang kali tanpa mengelak sekalipun.

Apakah penting bagi kita menonton rasa sakit seorang korban perselingkuhan? Bagi saya, film ini hanya mempertebal rasa sakit yang dirasakan oleh korban.Memang begitu kah kita seharusnya memperlakukan mereka?

Dalam film ini, jelas bahwa relasi kuasa tidak terhindarkan. Barangkali ini yang membuat pelaku tidak dapat disangkal di awal-awal film. Sampai pada akhirnya, media sosial  bertindak sebagai pengadilan pertama bagi kaum yang (merasa) ditindas. Format screenlife yang dihadirkan sebenarnya sudah sangat menopang narasi yang ingin disampaikan, Realitas sosial muncul benar-benar nyata di film ini. Saya pribadi sebenarnya sudah lelah dengan film yang mengangkat isu perselingkuhan — isu yang sudah tak lagi menggairahkan rasanya. Memang nikmat-nikmat saja, tapi mudah sekali loyonya.

Saya bisa menyamakan film ini dengan film Wahyu (2025) besutan sutradara Nada Leo Prakasa yang menceritakan Wahyu, seorang anak memiliki hasrat seks menyimpang terhadap sesama jenis. Wahyu berusaha untuk memperkosa beberapa temannya termasuk Cholis. Pada akhirnya, Cholis membalas perbuatan Wahyu. Di ending film, kebenaran tidak terungkap. Cholis tertuduh sebagai pelaku. Benar, film Wahyu ingin menyampaikan bahwasanya ada banyak perilaku penyimpangan seksual di ranah pesantren. Tapi rasanya dengan ending yang seperti itu, sang sutradara seakan memberi ruang kepada penonton untuk semacam memberi pembelaan terhadap tokoh Wahyu. Jadi ya, sama aja —sama-sama mengangkat suatu isu, namun tidak jelas keberpihakannya.  Pada akhirnya kedua film seakan melanggengkan ide bahwa isu yang diangkat biasa saja.

Terlepas dari itu semua, film Wifelive ini dieksekusi dengan baik, terlihat dari visualnya yang banyak menggunakan  motion untuk memperkuat posisi Maya  di media sosial tempat ia memanipulasi dirinya sendiri. Saya pribadi senang sekali dengan visual yang dihadirkan. Ya begitulah. Dengan produksi yang sangat niat ini, saya sangat menantikan film dari Fajar Indayani selanjutnya, semoga lebih baik dari ini dan terlepas dari hal-hal yang berbau keperempuananIngin rasanya melihat seorang sutradara perempuan membahas isi di luar kaumnya sendiri.

Ah, sudahlah. Malam ini Bukittinggi makin dingin dan jam gadang sudah memekakkan suasana yang sepi. Saya pulang ke hostel dengan pertanyaan yang masih lari marathon di kepalasaya, “kepada siapa film Wifelife berpihak?” “Pentingkah keberpihakan dalam sebuah film?” Mungkin pertanyaan ini hanya bikin pening kepala saja. Layaknya makan, makan ya makan aja, tapi kalo haram gimana? Jangan dimakan, ya? Lalu gimana kalo udah sangat lapar dan hanya haram yang tersisa?

Penulis

Alfarizi Andrianaldi, Alumnus sastra Indonesia Universitas Bung Hatta. Saat ini bekerja sebagai full-time illustrator. Instagram @alfariziand


Categories: Blog / catatan program