TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA
TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA
June 18, 2026

Pada 16 Juni 2026 di Balairung Sari Bukittinggi, telah berlangsung diskusi bertajuk “Antara Tan dan Natsir | Menakar Uji Sahih Pemikiran: Harus Jadi Pejabat atau Cukup di Akar Rumput?” yang diselenggarakan oleh rundiang.id bekerja sama dengan Ladang Rupa selaku fasilitator. Diskusi ini berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul pasca polemik potongan video ceramah Hadi Nur Ramadhan yang diunggah oleh akun instagram @sutan.malin.khatib. Dalam video itu, Hadi menyorot bermasalahnya kekaguman anak muda Minang pada Tan Malaka dan kemudian mengulas Natsir sebagai pembanding. Dibandingkan Natsir, Hadi menilai pemikiran Tan Malaka belum selesai dan tidak dapat diuji sebab ia “tidak pernah masuk di dalam dunia pemerintahan”. Delapan tulisan yang dimuat situs rundiang.id serta perdebatan di media sosial merangkai polemik yang kemudian menunggu tanggapan Hadi. Diskusi ini pada akhirnya mempertemukan Hadi Nur Ramadhan dengan tiga penulis Habibur Rahman, Devy Kurnia Alamsyah, Al Fikri Malin Basa bersama dua pembicara lainnya, Artawijaya dan Ferry Hidayat, untuk mengurai polemik ini dimulai dengan pertanyaan utama dari Tommy Destryanto selaku jenang: bagaimana menguji pemikiran seorang tokoh berdasarkan keterlibatannya di pemerintahan?

Penulis menilai diskusi ini gagal menemukan titik terang yang berarti untuk mengurai polemik tersebut. Sebab, seperti tidak dapat dihindari, jalannya diskusi justru semakin menegaskan batas antara dua kubu, sebut saja kubu Hadi vs Rundiang alih-alih menjawab pertanyaan utama. Setelah Hadi mengawali sesinya dengan menjelaskan konteks ceramah panjang yang dipotong tanpa sepengetahuannya dan menyayangkan video itu tidak ditonton keseluruhan, diskusi berlangsung cukup mengecewakan. Kubu Hadi memaparkan kerja-kerja pendokumentasian tokoh-tokoh Minangkabau yang telah dilakukan, mendorong anak muda mengkaji tokoh selain Tan Malaka, dan cenderung membangun kecurigaan pada Tan Malaka. Sementara, kubu Rundiang menegasi pemaparan mengenai Tan dan tokoh lainnya dan masih berupaya menuntut agar tokoh-tokoh tersebut dibicarakan secara adil. Impresi keseluruhan dari diskusi ini adalah adu legacy setiap tokoh yang memperebutkan atensi anak muda untuk dikaji.

Bagi penulis diskusi malam itu menyisakan pertanyaan, bukankah kita cukup senang setidaknya bahwa anak muda tertarik pada Tan Malaka, jika bukan membaca karyanya atau menggemarinya? Mengapa kita perlu menunggangi pikiran anak muda terhadap Tan Malaka? Apakah anak muda yang menggemari Tan Malaka lebih berbahaya dari mereka yang tidak mengenalnya sama sekali?

Bahaya anak muda menggemari Tan Malaka

Pada akhirnya penulis lebih tertarik pada subjek kaum muda dalam medan polemik ini alih-alih mengenai Tan dan Natsir. Subjek kaum muda menjadi penting sebab keresahan Hadi dalam potongan video ceramahnya itu tertuju pada kaum muda Minang. “Sekarang banyak anak-anak Minang yang mengagumi Tan Malaka. Dikit-dikit menganalisa satu bangsa satu negara dengan kaji pemikiran Tan malaka. Tan Malaka ini kalau kita kaji pemikirannya belum selesai. Yang kedua, belum bisa kita uji. Kenapa? Karena Tan Malaka tidak pernah masuk di dalam dunia pemerintahan,” ujar Hadi. 

Ketika kita membayangkan “anak-anak” atau “muda”, seringkali yang dirujuk adalah  kategorisasi berdasarkan usia yang batasnya sungguh kabur. Cara pandang ini lebih simpatik pada produksi pengetahuan yang bermuara pada tujuan kontrol (misalnya melalui kebijakan kepemudaan) sebab kaum muda selalu dikonstruksikan ada yang salah, belum lengkap dalam fase existing mereka, sehingga dianggap perlu “dibimbing”  (Sutopo dan Jesica, 2025). Dalam potongan video ceramah Hadi, kegemaran kaum muda akan Tan Malaka disorot sebagai suatu persoalan yang melegitimasi upaya untuk mempopulerkan tokoh yang lebih layak dirujuk. Upaya itu masih tampak dalam pemaparan mengenai tokoh-tokoh Minang lainnya sembari melakukan perbandingan dengan Tan sepanjang diskusi. Dalam posisi ketergantungan berbagai jenis modal (ekonomi, sosial dan budaya), anak muda seringkali terjebak dalam agenda-agenda politis dan cenderung menginternalisasi pandangan dominan (Sutopo dan Jesica, 2025). Pada momen ini lah, reproduksi kultural meneguhkan dominasi generasi sebelumnya terhadap anak muda yang telah diasingkan dari Tan Malaka sekian lama. Polemik ini menunjukkan betapa anak muda Minang masih terus diobjektifikasi dalam berbagai agenda yang melegitimasi kontrol atasnya.

Status “bahaya” adalah kemegahan milik anak muda. Dengan memahami dimensi sosialnya, anak muda yang berbahaya membangun makna sendiri atas yang dianjurkan dan tidak dianjurkan. Dalam polemik ini misalnya, dengan mempertanyakan “apa masalahnya aku menggemari tokoh yang pemikirannya belum selesai itu?”. Subjektivitas anak muda Minang semestinya menunjukkan keragaman cara berpikir sebagaimana generasi Tan dan Natsir. Dengan demikian, anak muda Minang membangun representasi alternatif atas dirinya di luar representasi dominan di ruang-ruang alternatif pula. Maka akar rumput adalah kemegahan yang lain bagi anak muda. Untuk itu, penulis sebagai bagian dari Forum Studi Ladang Rupa yang mendukung kemerdekaan berpikir, dalam polemik ini menyatakan keberpihakan pada anak-anak muda Minang yang berbahaya.

rujukan:

Sutopo, Oki Rahadianto & Elok Santi Jesica. 2025. Pengantar Perspektif Kepemudaan: Transisi, Budaya, dan Generasi Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Categories: Blog